Manusiadan sejarah memiliki suatu keterkaitan yang erat. Tanpa sejarah, patut dipertanyakan eksistensi manusia sebagai mahluk hidup yang berpikir dan beraktivitas. Tanpa manusia, sejarah pun menjadi hampa. Alasannya, sejarah tidak akan pernah ada apabila manusia itu sendiri tidak ada. Manusialah yang menjadi objek sejarah, dan manusia pulalah BagiamanaHubungan Manusia Dengan Sejarah? Hubungan manusia dan sejarah adalah hal yang sifatnya mutlak, sebab dalam konteks sejarah manusia berperan sebagai SUBJEK sekaligus OBJEK. Beberapa sejarawan berkata tanpa manusia, apa yang dikenal sebagai sejarah jelas tak ada. Manusia sebagai subjek sejarah berarti bahwa manusia adalah pelaku sejarah. Manusiadan sejarah memiliki keterkaitan kedudukan manusia . B.setara dengan makhluk lain ciptaan Tuhan yang tidak mampu berkreasi . PEMBAHASAN. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, yang tidak bisa bergantung pada dirinya sendiri untuk bertahan hidup, sehingga sejarah tidak terlalu diperlukan di dalam hubungan sosial. Manusiadan sejarah Manusia dan sejarah memiliki suatu keterkaitan yang erat. Tanpa sejarah, patut dipertanyakan eksistensi manusia sebagai makhluk hidup yang tinggal dan menetap. tanpa manusia, sejarah pun menjadi di atas didasari oleh konsep bahwa sejarah yang didalamnya terdiri dari kejadian-kejadian memilik manusia sebagai objeknya. manusiadan sejarah memiliki keterkaitan yang erat. tanpa sejarah kedudukan manusia. SD. SMP. SMA SBMPTN & UTBK. Produk Ruangguru. Beranda; SMA; Sejarah; manusia dan sejarah memiliki keterkaitan yang erat SS. Sarita S. 22 Maret 2020 03:31. Pertanyaan. manusia dan sejarah memiliki keterkaitan yang erat. tanpa sejarah kedudukan manusia salah satu fungsi kerajinan tekstil dari bahan limbah kecuali. Aditya Nugroho TAS tes akhir semester Manusia dan sejarah memiliki suatu keterkaitan yang erat. Tanpa sejarah, patut dipertanyakan eksistensi manusia sebagai makhluk hidup yang tinggal dan menetap. tanpa manusia, sejarah pun menjadi Pernyataan di atas didasari oleh konsep bahwa sejarah yang didalamnya terdiri dari kejadian-kejadian memilik manusia sebagai objeknya. Kuntowijoyo mengemukakan bahwa sejarah adalah suatu rekonstruksi masa lalu yang sudah barang tentu disusun oleh komponen-komponen tindakan manusia berupa yang dipikirkan, dilakukan dan diucapkan. Sederhananya adalah, Sejarah adalah suatu bidang yang mempelajari tentang apa yang dilakukan, dipikirkan dan diucapkan manusia pada masa lalu. Manusia dalam sejarah dapat mencakup manusia sebagai subjek dalam sejarah dan manusia sebagai objek dalam sejarah. Manusia sebagai subjek sejarah berarti tindakan manusia dalam menentukan arus kesejarahan. Peran ini kebanyakan dilakukan oleh para sejarawan yang meneliti dan menulis peristiwa masa lalu. Manusia sebagai subjek sejarah cenderung bersifat subjektif. Manusia yang mempengaruhi sejarah karena manusialah yang membuat sejarah. Karena manusia yang mengendalikan sejarah berarti menegaskan kedinamisan dirinya. Karena manusia yang membuat sejarah, sudah seharusnya setiap dari diri kita menjadi seorang sejarawan. Minimal sejarawan bagi diri sendiri every man is own historians. Dalam sudut pandang manusia sebagai objek sejarah, manusia merupakan menu sejarah yang di kaji oleh subjek. Objek yang berarti masuk dalam konteks “yang telah terjadi” Sedang dalam sudut pandang manusia sebagai subjek sejarah, manusia dapat menjadi penyedia menu sejarah tersebut. A. Konsep Ruang dan Waktu dalam Sejarah Konsep Ruang dalam Sejarah Ruang adalah tempat di permukaan bumi, baik secara keseluruhan maupun hanya sebagian Sumaatmadja, 1981. Ruang tidak hanya sebatas udara yang bersentuhan dengan permukaan bumi, tetapi juga lapisan atmosfer terbawah yang memengaruhi permukaan bumi. Ruang juga mencakup perairan yang ada di permukaan bumi laut, sungai, dan danau dan dibawah permukaan bumi air dan tanah sampai ke kedalaman tertentu. Ruang juga mencakup lapisan tanah dan batuan sampai pada lapisan tertentu yang menjadi sumber daya bagi kehidupan. Berbagai organisme dan makluk hidup juga merupakan bagian dari ruang. Dengan demikian, batas ruang dapat diartikan sebagai tempat dan unsur-unsur lainnya yang mempengaruhi kehidupan di permukaan bumi. Konsep waktu dalam mempunyai arti masa atau periode berlangsungnya perjalanan kisah kehidupan manusia. Waktu dapat dibagi menjadi tiga, yaitu waktu lampau, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang. Demikian kita memahami tempat ruang dan waktu tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Konsep Waktu dalam Sejarah Waktu dimensi temporal memiliki dua makna yanki makna denotatif dan makna konotatif . makna waktu secara denotatif adalah merupakan satu kesatuan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad, dan sebagainya. Sedangkan makna waktu secara konotatif adalah waku sebagai suatu konsep. Ruang dimensi spasial merupakan tempat terjadinya berbagai peristiwa alam maupun peristiwa social dan peristiwa sejarah dalam proses perjalanan waktu. Manusia dimensi manusia adalah pelaku dalam peristiwa social dan peristiwa sejarah. dengan demikian ketiga konsep tersebut, yaitu ruang, waktu, dan manusia merupakan tiga unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu peristiwa dan waktu dalam sejarah keterkaitan antara waktu dengan peristiwa sejarah meliputi 4 hal berikut a. Perkembangan Perkembangan masyarakat terjadi bila berturut-turut masyarakat bergerak dari satu bentuk ke bentuk yang lain. biasanya masyarakat akan berkembang dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks. Contoh paling jelas adalah perkembangan demokrasi Amerika Serikat yang mengikuti perkembangan kota. Perkembangan masyarakat manusia dari masa lampau sampai sekarang. b. Kesinambungan Kesinambungan terjadi bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi lembaga-lembaga lama. Dikatakan bahwa pada mulanya kolonialisme adalah kelajutan dari patrionalisme. Demikianlah, kebijakan kolonialisme hanya mengadopsi kebiasaan lama. c. Pengulangan Pengulangan terjadi bila peristtiwa yang pernah terjadi di masa lampau terjadi lagi pada masa yang selanjutnya, misalnya ; jatuhnya kekuasaan Presiden Soekarno akibat aksi-aksi yang dilakukan oleh mahasiswa. Peristiwa ini kembali terjadi, dimana presiden Soeharto lengser akibat aksi-aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa. d. Perubahan Perubahan terjadi apabila masyarakat mengalami pergeseran dan perkembangan. Akan tetapi, asumsinya adalah adanya perkembangan besar-besaran dan dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya perubahan ini terjadi akibat pengaruh dari luar. Contohnya, gerakan Padri di Sumatera Barat yang menentang kaum Adat sering dianggap sebagai hasil pengaruh gerakan Wahabi di Arab yang ditularkan lewat para haji sepulang dari Mekkah, dan tidak puas dengan kekuasaan kaum Adat. Keterkaitan Antara Waktu dengan Pembabakan Sejarah Proses dalam sejarah memperlihatkan perubahan, peralihan, dan pergantian. Untuk memperoleh pemahaman yang baik tentang sejarah, yakni mendapatkan gambaran yang bermakna mengenai masa lampau kehidupan dan masyarakat manusia, maka sejarah harus diberi bentuk tertentu berupa cerita sejarah. sejarah diberi bentuk dengan mengadakan pelukisan peristiwa sejarah. Faktor-faktor perubahan sosial berdasarkan arah timbulnya pengaruh a. Faktor Internal 1 Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk. Pertambahan penduduk yang sangat cepat akan mengakibatkan perubahan dalam struktur masyarakat, khususnya dalam lembaga kemasyarakatannya. Salah satu contohnya disini adalah orang akan mengenal hak milik atas tanah, mengenal system bagi hasil, dan yang lainnya, dimana sebelumnya tidak pernah mengenal. Sedangkan berkurangnya jumlah penduduk akan berakibat terjadinya kekosongan baik dalam pembagian kerja, maupun stratifikasi social, hal tersebut akan mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada. 2 Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yang bersifat baru discovery ataupun penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama invention. Suatu proses social dan kebudayaan yang besar, tetapi terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama disebut dengan inovasi. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya unsur kebudayaanbaru yang tersebar ke lain-lain bagian masyarakat, dan cara-cara unsure kebudayaan baru tadi diterima, dipelajari dan akhirnya dipakai dalam masyarakat yang bersangkutan. Penemuan baru sebagai akibat terjadinya perubahan-perubahan dapat dibedakan dalam pengertian discovery dan invention. Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat ataupun yang berupa gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian ciptaan para individu. Discovery sendiri akan berubah menjadi invention, jika masyarakat sudah mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru tersebut. 3 Munculnya berbagai bentuk pertentangan conflict dalam masyarakat. Pertentangan ini bisa terjadi antara individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan kelompok. Mmisalnya saja pertentangan antara generasi muda dengan generasi tua. Generasi muda pada umumnya lebih senang menerima unsur-unsur kebudayaan asing, dan sebaliknya generasi tua tidak menyenangi hal tersebut. Keadaan seperti ini pasti akan mengakibatkan perubahan dalam masyarakat. 4 Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar. Revolusi yang terjadi pada suatu masyarakat akanm membawa akibat berubahnya segala tata cara yang berflaku pada lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Biasanya hal ini diakibatkan karena adanya kebijaksanaan atau ide-ide yang berbeda. Misalnya, Revolusi Rusia Oktober 1917 yang mampu menggulingkan pemerintahan kekaisaran dan mengubahnya menjadi sistem diktator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar, baik dari tatanan negara hingga tatanan dalam keluarga. b. Faktor Eksternal 1 Adanya pengaruh bencana alam. Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu daerah untuk mengungsi meninggalkan tanah kelahirannya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal ini kemungkinan besar juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola kelembagaannya. 2 Adanya peperangan, baik perang saudara maupun perang antarnegara dapat menyebabkan perubahan, karena pihak yang menang biasanya akan dapat memaksakan ideologi dan kebudayaannya kepada pihak yang kalah. Misalnya, terjadinya perang antarsuku ataupun negara akan berakibat munculnya perubahan-perubahan, pada suku atau negara yang kalah. Pada umunya mereka yang menang akan memaksakan kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan oleh masyarakatnya, atau kebudayaan yang dimilikinya kepada suku atau negara yang mengalami kekalahan. 3 Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan. Jika pengaruh suatu kebudayaan dapat diterima tanpa paksaan, maka disebut demonstration effect. Jika pengaruh suatu kebudayaan saling menolak, maka disebut cultural animosity. Adanya proses penerimaan pengaruh kebudayaan asing ini disebut dengan akulturasi. Jika suatu kebudayaan mempunyai taraf yang lebih tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul proses imitasi yang lambat laun unsur-unsur kebudayaan asli dapat bergeser atau diganti oleh unsur-unsur kebudayaan baru tersebut. Pengaruh-pengaruh itu dapat timbul melalui proses perdagangan dan penyebaran agama. Faktor Pendukung dan Penghalang Proses Perubahan Faktor Pendukung Proses Perubahan Terjadinya suatu proses perubahan pada masyarakat, diakibatkan adanya faktor yang mendorongnya, sehingga menyebabkan timbulnya perubahan. Faktor pendorong tersebut menurut Soerjono Soekanto antara lain Kontak dengan kebudayaan lain Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusion difusi. Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu kepada individu lain. Dengan proses tersebut manusia mampu untuk menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. Dengan terjadinya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima oleh masyarakat dapat diteruskan dan disebar luaskan kepada semua masyarakat, hingga seluruh masyarakat dapat merasakan manfaatnya. Proses difusi dapat menyebabkan lancarnya proses perubahan, karena difusi memperkaya dan menambah unsur-unsur kebudayaan yang seringkali memerlukan perubahan-perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan, yang lama dengan yang baru. Sistem pendidikan formal yang maju Pada dasarnya pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi individu, untuk memberikan wawasan serta menerima hal-hal baru, juga memberikan bagaimana caranya dapat berfikir secara ilmiah. Pendidikan juga mengajarkan kepada individu untuk dapat berfikir secara obyektif. Hal seperti ini akan dapat membantu setiap manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuh kebutuhan zaman atau tidak. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju Bila sikap itu telah dikenal secara luas oleh masyarakat, maka masyarakat akan dapat menjadi pendorong bagi terjadinya penemuan-penemuan baru. Contohnya hadiah nobel, menjadi pendorong untuk melahirkan karya-karya yang belum pernah dibuat. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang deviation Adanya toleransi tersebut berakibat perbuatan-perbuatan yang menyimpang itu akan melembaga, dan akhirnya dapat menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan oleh masyarakat. Sistem terbuka pada lapisan masyarakat Adanya system yang terbuka di dalam lapisan masyarakat akan dapat menimbulkan terdapatnya gerak social vertical yang luas atau berarti member kesempatan kepada para individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri. Hal seperti ini akan berakibat seseorang mengadakan identifikasi dengan orang-orang yang memiliki status yang lebih tinggi. Identifikasi adalah suatu tingkah laku dari seseorang, hingga orang tersebut merasa memiliki kedudukan yang sama dengan orang yang dianggapnya memiliki golongan yang lebih tinggi. Hal ini dilakukannya agar ia dapat diperlakukan sama dengan orang yang dianggapnya memiliki status yang tinggi tersebut. Adanya penduduk yang heterogen Terdapatnya penduduk yang memiliki latar belakang kelompok-kelompok social yang berbeda-beda, misalnya ideology, ras yang berbeda akan mudah menyulut terjadinya konflik. Terjdinya konflik ini akan dapat menjadi pendorong perubahan-perubahan sosial di dalam masyarakat. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu Terjadinya ketidakpuasan dalam masyarakat, dan berlangsung dalam waktu yang panjang, juga akan mengakibatkan revolusi dalam kehidupan masyarakat. Adanya orientasi ke masa depan Terdapatnya pemikiran-pemikiran yang mengutamakan masa yang akan datang, dapat berakibat mulai terjadinya perubahan-perubahan dalam system social yang ada. Karena apa yang dilakukan harus diorientasikan pada perubahan di masa yang akan datang. Faktor Penghalang Proses Perubahan Di dalam proses perubhan tidak selamanya hanya terdapat faktor pendorong saja, tetapi juga ada faktor penghambat terjadinya proses perubahan tersebut. Faktor penghalang tersebut antara lain Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat Terlambatnya ilmu pengetahuan dapat diakibatkan karena suatu masyarakat tersebut hidup dalam keterasingan dan dapat pula karena ditindas oleh masyarakat lain. Sikap masyarakat yang tradisional Adanya suatu sikap yang membanggakan dan memperthankan tradisi-tradisi lama dari suatu masyarakat akan berpengaruh pada terjadinya proses perubahan. Karena adanya anggapan bahwa perubahan yang akan terjadi belum tentu lebih baik dari yang sudah ada. Adanya kepentingan yang telah tertanam dengan kuatnya. Organisasi sosial yang telah mengenal system lapisan dapat dipastikan aka nada sekelompok individu yang memanfaatkan kedudukan dalam proses perubahan tersebut. Contoh, dalam masyarakat feodal dan juga pada masyarakat yang sedang mengalami transisi. Pada masyarakat yang mengalami transisi, tentunya ada golongan-golongan dalam masyarakat yang dianggap sebagai pelopor proses transisi. Karena selalu mengidentifikasi diri dengan usaha-usaha dan jasa-jasanya, sulit bagi mereka untuk melepaskan kedudukannya di dalam suatu proses hubungan dengan masyarakat lain. Hal ini biasanya terjadi dalam suatu masyarakat yang kehidupannya terasing, yang membawa akibat suatu masyarakat tidak akan mengetahui terjadinya perkenmbangan-perkembangan yang ada pada masyarakat yang lainnya. Jadi masyarakat tersebut tidak mendapatkan bahan perbandingan yang lebih baik untuk dapat dibandingkan dengan pola-pola yang telah ada pada masyarakat tersebut. Adanya prasangka buruk terhadap hal-hal baru. Anggapan seperti inibiasanya terjadi pada masyarakat yang pernah mengalami hal yang pahit dari suatu masyarakat yang lain. Jadi bila hal-hal yang baru dan berasal dari masyarakat-masyarakat yang pernah membuat suatu masyarakat tersebut menderita, maka masyarakat ituakan memiliki prasangka buruk terhadap hal yang baru tersebut. Karena adanya kekhawatiran kalau hal yang baru tersebut diikuti dapat menimbulkan kepahitan atau penderitaan lagi. Adanya hambatan yang bersifat ideologis. Hambatan ini biasanya terjadi pada adanya usaha-usaha untuk merubah unsur-unsur kebudayaan rohaniah. Karena akan diartikan sebagai usaha yang bertentangan dengan ideologi masyarakat yang telah menjadi dasar yang kokoh bagi masyarakat tersebut. Adat atau kebiasaan Biasanya pola perilaku yang sudah menjadi adat bagi suatu masyarakat akan selalu dipatuhi dan dijalankan dengan baik. Dan apabila pola perilaku yang sudah menjadi adat tersebut sudah tidak dapat lagi digunakan, maka akan sulit untuk merubahnya, karena masyarakat tersebut akan mempertahankan alat, yang dianggapnya telah membawa sesuatu yang baik bagi pendahulu-pendahulunya. Faktor-faktor yang menghalangi terjadinya proses perubahan tersebut, secara umum memang akan merugikan masyarakat itu sendiri. Karena setiap anggota dari suatu masyarakat umumnya memiliki keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih daripada yang sudah didapatnya. Hal tersebut tidak akan diperolehnya jika masyarakat tersebut tidak mendapatkan adanya perubahan-perubahan dan hal-hal yang baru. Faktor penghambat dari proses perubahan social ini, oleh Margono Slamet dikatakannya sebagai kekuatan pengganggu atau kekuatan bertahan yang ada di dalam masyarakat. kekuatan bertahan adalah kekuatan yang bersumber dari bagian-bagian masyarakat yang Menentang segala macam bentuk perubahan. Biasanya golongan yang paling rendah dalam masyarakat selalu menolak perubahan, karena mereka memerlukan kepastian untuk hari esok. Mereka tidak yakin bahwa perubahan akan membawa perubahan untuk hari esok. Menentang tipe perubahan tertentu saja, misalnya ada golongan yang menentang pelaksanaan keluarga berencanasaja, akan tetapi tidak menentang pembangunan-pembangunan lainnya. Sudah puas dengan keadaan yang ada. Beranggapan bahwa sumber perubahan tersebut tidak tepat. Golongan ini pada dasarnya tidak menentang perubahan itu sendiri, akan tetapi tidak menerima perubahan tersebut oleh karena orang yang menimbulkan gagasan perubahan tidak dapat mereka terima. Hal ini dapat dihindari dengan jalan menggunakan pihak ketiga sebagai penyampai gagasan tersebut kepada masyarakat. Kekurangan atau tidak tersedianya sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan perubahan diinginkan. Hambatan tersebut selain dari kekuatan yang bertahan, juga terdapat kekuatan pengganggu. Kekuatan pengganggu ini bersumber dari Kekuatan-kekuatan di dalam masyarakat yang bersaing untuk memperoleh dukungan seluruh masyarakat dalam proses pembangunan. Hal ini dapat menimbulkan perpecahan, yang dapat mengganggu pelaksanaan pembangunan. Kesulitan atau kekomplekkan perubahan yang berakibat lambatnya penerimaan masyarakat terhadap perubahan yang akan dilakukan. Perbaikan gizi, keluarga berencana, konservasi hutan dan lain-lain, adalah beberapa contoh dari bagian itu. Kekurangan sumber daya yang diperlukan dalam bentuk kekurangan pengetahuan, tenaga ahli, keterampilan, pengertian, biaya dan sarana serta yang lainnya. B. Manusia Dalam Perubahan dan Berkelanjutan Perubahan dalam sejarah Perubahan ini dapat diartikan sebagai segala aspek kehidupan yang terus bergerak seiring dengan perjalanan kehidupan masyarakat. Heraclitus mengatakan “Panta rei”, artinya tidak ada yang tidak berubah, semuanya mengalir, masyarakat sewaktu-waktu bergerak dan berubah. Wertheim, menuliskan, History is a continuity and change Sejarah adalah peristiwa yang berkesinambungan dan perubahan. Perkembangan kehidupan dalam masyarakat ada yang berlangsung lambat dan ada yang cepat. Arah perubahan dibedakan atas keadaan yang lebih baik progres dan keadaan yang lebih buruk regres. Berkelanjutan dalam sejarah Dalam mempelajari sejarah, rangkaian peristiwa yang ada merupakan peristiwa yang berkelanjutan. Kehidupan manusia saat ini merupakan mata rantai dari kehidupan masa lampau, sekarang dan masa mendatang. Setiap peristiwa tidak berdiri sendiri dan tidak terpisahkan dari peristiwa lain. Selain membahas manusia atau masyarakat, sejarah juga melihat hal lain yaitu waktu. Waktu menjadi konsep penting dalam ilmu sejarah. Sehubungan dengan konsep waktu, dalam ilmu sejarah menurut Kuntowijoyo meliputi perkembangan, keberlanjutan/kesinambungan, pengulangan dan perubahan. Disebut mengalami perkembangan apabila dalam kehidupan masyarakat terjadi gerak secara berturut-turut dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Perkembangan terjadi biasanya dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks. Misalnya adalah perkembangan demokrasi di Amerika yang mengikuti perkembangan kota. Pada awalnya masyarakat di Amerika tinggal di kota-kota kecil. Di kota-kota kecil itulah tumbuh dewan-dewan kota, tempat orang berkumpul. Dari kota-kota kecil mengalami proses menjadi kota-kota besar hingga menjadi kota metropolitan. Di sini, demokrasi berkembang mengikuti perkembangan kota. Kesinambungan terjadi bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi lembaga-lembaga lama. Misalnya pada masa kolonial, kebijakan pemerintah kolonial mengadopsi kebiasaan lama, antara lain dalam menarik upeti raja taklukan, Belanda meniru raja-raja pribumi. Sementara itu disebut pengulangan apabila peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau terjadi lagi pada masa berikutnya, misalnya menjelang presiden Soekarno jatuh dari kekuasaannya pada tahun 1960-an banyak terjadi aksi dan demonstrasi, khususnya yang dilakukan oleh para mahasiswa. Demikian halnya menjelang presiden Soeharto jatuh pada 1998, juga banyak terjadi aksi dan demonstrasi. Sedangkan dikatakan perubahan apabila dalam masyarakat terjadi perkembangan secara besar-besaran dalam waktu yang relatif singkat. Perubahan terjadi karena adanya pengaruh dari luar. Misalnya gerakan nasionalisme di Indonesia sering dianggap sebagai kepanjangan dari gerakan romantik di Eropa. Berhubungan dengan konsep waktu ini lah dikisahkan kehidupan manusia pada masa lalu. Masa lalu merupakan sebuah masa yang sudah terlewati. Namun, masa lalu bukanlah suatu masa yang terhenti dan tertutup. Masa lalu bersifat terbuka dan berkesinambungan sehingga dalam sejarah, masa lalu manusia bukan demi masa lalu itu sendiri. Segala hal yang terjadi di masa lalu dapat dijadikan acuan untuk bertindak di masa kini dan untuk meraih kehidupan yang lebih baik di masa datang. SoalSejarah memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan manusia. Pernyataan tersebut berarti?Jawabmanusia tidak dapat hidup tanpa sejarahsejarah menciptakan kehidupan manusiasejarah mempengaruhi gerak aktivitas manusiasejarah menceritakan kisah kehidupan manusiasejarah merupakan kenangan masa lalu manusiaJawaban benar sejarah menceritakan kisah kehidupan manusiaPenjelasanSalah satu hal yang membuat sejarah memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan manusia adalah sejarah menceritakan kisah kehidupan manusia sebelumnya. Dengan sejarah, kita mampu mengetahui bagaimana kehidupan manusia di masa lampau dengan tujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan belajar dari kesalahan masa lalu. ADVERTISEMENT CONTINUE READING BELOW Manusia dan sejarah memiliki keterkaitan yang sangat erat. Tanpa sejarah manusia sebagai makhluk hidup patut dipertanyakan keberadaan dan aktifitasnya. Demikian juga dengan sejarah, tanpa manusia tak akan ada sejarah. Hal ini dikarenakan bahwa sejarah adalah peristiwa hasil dari perbuatan manusia. Terdapat tiga unsur utama dalam sejarah,yaitu manusia, ruang dan waktu. Ketiganya saling berkait dan berinteraksi secara kronologis dan berkesinambungan sehingga membentuk suatu peristiwa sejarah. Kesinambungan itu terjadi karena manusia dalam kehidupannya diikat oleh waktu dan ruang. Ada masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, ketiga-tiganya menunjukkan adanya kesinambungan. Masa lalu akan menentukan masa sekarang, dan masa sekarang akan menentukan masa depan. Jadi, sejarah pada dasarnya bukan hanya bicara masa lalu, sejarah pada dasarnya berbicara kehidupan manusia dalam konteks waktu dan ruang. Unsur manusia memiliki peran penting dalam peristiwa sejarah. Manusia adalah aktor utama yang sangat menentukan suatu peristiwa sejarah, sehingga mempelajari sejarah dapat diartikan juga kita mempelajari sejarah manusia. Ketika kita mempelajari sejarah, maka kita sedang mempelajari manusia, baik sebagai makhluk individu, makhluk sosial, ataupun makhluk politik. Fungsi dan kedudukan manusia di muka bumi akan menghasilkan berbagai peristiwa penting dalam kehidupan umat manusia, yaitu sejarah. Dalam hal ini manusia menempatkan dirinya sebagai makhluk yang cerdas, memiliki peradaban, dan berjuang mempertahankan hidup agar menjadi lebih baik. Manusia menggunakan akal pikiran, hati nurani, dan nafsunya untuk memunculkan ide-ide kreatif yang membentuk sebuah peradaban atau budaya. Proses ini memunculkan adanya interaksi manusia dengan lingkungannya, Interaksi manusia dengan manusia lain, dan interaksi manusia dengan Sang Pencipta Tuhan. Keselurunan aktivitas manusia inilah yang melahirkan sejarah dalam kehidupan umat manusia. Manusia dalam sejarah dapat mencakup dua peran, yaitu manusia sebagai subjek dalam sejarah dan manusia sebagai objek dalam sejarah. Manusia sebagai subjek sejarah berarti tindakan manusia dalam menentukan arus kesejarahan. Peran ini kebanyakan dilakukan oleh para sejarawan yang meneliti dan menulis peristiwa masa lalu. Manusia sebagai subjek sejarah cenderung bersifat subjektif. Objektvitas penceritaan sejarah oleh manusia sangatlah rendah. Tahukah Anda mengapa demikian ini disebabkan oleh ikatan emosional dan intelektual dalam diri setiap manusia. Orang Indonesia yang menulis tentang sejarah perjuangan Indonesia dalam menghadapi penjajan enu usalnnya akan iebih membela kepentingan rakyat Indonesia yang dijajah. Sebaliknya, apabila orang Belanda menulis tentang sejarah yang melibatkan mereka, tentunya akan lebih mengarah kepada pembelaannya terhadap latar belakang dan asal negerinya. Realitas dalam sejaran tidak memiliki makna dengan sendirinya. Akan tetapi, realitas itu dimaknai oleh manusia-manusia yang menentukan arus kesejarahan. Sehingga makna yang didapat pun berbeda satu sama lain. Di sinilah tantangan bagi para Sejarawan, di mana mereka dituntut untuk memaknai isi sejarah seobjektif mungkin dengan pemakaian sudut pandang masa kini dalam mendalami isi sejarah yang memiliki sudut pandang masa lalu yang tentu berbeda. Manusia sangat memengaruhi sejarah karena manusia yang membuat sejarah. Karena manusia yang mengendalikan sejarah berarti menegaskan kedinamisan ininya. Karena manusia yang membuat sejarah, sudah seharusnya setiap dari diri kita menjadi Seorang sejarawan. Minimal sejarawan bagi diri sendiri every man is own historians Dalam sudut pandang manusia sebagai objek sejarah, manusia merupakan objek sejarah yang dikaji oleh subjek. Objek pembahasan sejarah berkisar pada kehidupan umat manusia yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Dalam hal ini, manusialah yang menjadi sasaran pembahasan dalam sejarah dan menentukan warna kehidupan di muka bumi. Tinggi rendahnya sejarah sebuah bangsa ditentukan oleh segenap aktivitas manusia sebagai objek pembahasan sejarah. Kecenderungan manusia sebagai makhluk sosial mengandung konsekuensi bahwa manusia berusaha untuk hidup bersama dengan orang lain membentuk suatu komunitas masyarakat yang memilki ciri-ciri spesifik, termasuk sejarahnya. Kecenderungan manusia atas sejarah memungkinkan manusia memiliki suatu kemampuan untuk merekam jejak-jejak Sejaran dan berusaha mewariskan masa lalunya. Hal inilah yang disebut dengan istilah tradisi sejarah, Jadi, tradisi sejarah merupakan kemampuan yang dimiliki suatu masyarakat untuk merekam dan mewariskan masa lalunya kepada generasi yang akan datang. Hal ini berlaku Daik pada masa prasejarah masyarakat belum mengenal tulisan ataupun pada masa sejarah telah mengenal tulisan. Pada masa prasejarah, masyarakat memiliki tradisi sejarah dengan media folklor, dongeng, mitologi, dan budaya yang dimilikinya. Sementara masyarakat yang telah mampu mengenal tulisan, meninggalkan jejak-jejak sejarah melalui rekaman tertulis berupa prasasti, dokumen, dan kitab-kitab yang dihasilkannya. Di sinilah peran manusia memegang kunci pokok sebagai subjek dan objek sejarah. Ruang Pembahasan sejarah akan melibatkan unsur ruang/tempat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian ruang adalah sela-sela antara dua deret tiang atau sela-sela antara empat tiang di bawah rongga rumah. Ruang juga diartikan sebagai rongga yang berbatas atau terlingkung oleh bidang. Sejarah, dimensi ruang atau tempat merupakan unsur terpenting yang akan menjadi identitas dari peristiwa sejarah yang berlangsung, yaitu di mana tempat terjadinya peristiwa sejarah tersebut. Unsur ruang/tempat dari peristiwa sejarah berkaitan dengan lingkungan geografis, lengkap dengan segala keunikan yang dimilikinya baik keunikan dari faktor alam ataupun budaya yang melingkupi peristiwa sejarah tersebut. Dalam kehidupannya, manusia memiliki komunitas dengan identitas masing-masing. ldentitas inilah yang membedakan satu komunitas dengan komunitas lainnya, baik identitas kesukuan, identitas budaya, dan identitas geografis. Pada akhirnya sebuah peristiwa sejarah yang berlangsung akan memiliki unsur ruang yang menjadi identitas peristiwa tersebut. Sebagai contoh, timbulnya kerajaan Hindu-Buddha di lndonesia di berbagai tempat akan menghasilkan berbagai corak dan ciri masing-masing. Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur berbeda ciri dan coraknya dengan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Hal inilah yang dimaksud dengan dimensi ruang dalam peristiwa sejarah. Konsep Waktu Masa lampau itu sendiri merupakan sebuah masa yang sudah terlewati. Tetapi, masa lampau bukan merupakan suatu masa yang final, terhenti, dan tertutup. Masa lampau itu bersifat terbuka dan berkesinambungan. Sehingga, dalam sejarah, masa lampau manusia bukan demi masa lampau itu sendiri dan dilupakan begitu saja, sebab sejarah itu berkesinambungan apa yang terjadi dimasa lampau dapat dijadikan gambaran bagi kita untuk bertindak dimasa sekarang dan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Sejarah dapat digunakan sebagai modal bertindak di masa kini dan menjadi acuan untuk perencanaan masa yang akan datang. Contoh Konsep Waktu Pembagian Zaman Prasejarah di Indonesia. Zaman prasejarah adalah suatu pembabakan dalam periode sejarah yang berlangsung cukup lama. Ditandai dengan belum ditemukanya salah satu peradapan manusia berupa keterangan tertulis atau zaman manusia belum mengenal tulisan dan di periode ini ditandai dengan cara hidup berburu dan memungut bahan makanan yang tersedia di alam atau disebut zaman paleolithikum atau zaman batu tua. Ciri masyarakat pada zaman ini adalah hidup sebagai masyarakat primitif. Kehidupan masyarakatnya masih memenuhi kebutuhan hidupnya pada kebutuhan kebutuhan yang paling dasar atau pokok. Pembagian zaman prasejarah di Indonesia menurut arkeolog. Arkeologi Ilmu kepurbakalaan yang mempelajari peninggalan-peninggalan sejarah purbakala manusia purba berupa benda-benda budaya, artefak untuk menyusun kembali rekonstruksi kehidupan manusia dan masyarakat purba. Antara lain sebagai berikut A. Zaman Batu Zaman ini terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini diperiodisasi lagi menjadi 4 zaman, antara lain Zaman Batu Tua Paleolitikum Disini inti kegiatan sehari hari mereka adalah hidup berburu serta mereka mengumpulkan bahan makanan dari alam untuk dikonsumsi saat itu. Kegiatan seperti itu disebut peradapan food gathering atau pengumpul makanan tahap awal. Zaman Batu Tengah Mesolitikum Ciri utama peradaban ini adalah manusianya telah bertempat tinggal tetap dan diperlukan waktu ribuan tahun untuk mencapai taraf hidup pada zaman ini bertempat tinggal digua yang disebut peradaban Abris Sous Roche. Zaman Batu Muda Neolitikum Ciri utama zaman batu muda adalah manusia telah menghasilkan makanan atau menjadi pendukung food producing walaupun proses kearah terbentuknya masyarakat food producing memerlukan waktu ribuan tahun. Perubahan tersebut dianggap sebagai satu revolusi sebab sejak saat itulah keadaan masyarakat dengan sistem sosialnya terbentuk. Manusia pendukung peradaban ini sudah bertempat tinggal menetap bercocok tanam, beternak, mengembangankan perikanan atau dengan kata lain telah mengembangkan kebudayaan agraris walaupun masih dalam tinggkatan yang masi sangat sederhana. Zaman Batu Besar Megalitikum Pada zaman ini adalah manusia pendukungnya telah menciptakan bangunan-bangunan besar yang terbuat dari batu. Bangunan-bangunan yang berkaitan dengan sistem kepercayaan mereka diataranya menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, punden berundak dan arca. Manusia pendukung peradaban zaman batu percaya kepada roh nenek moyang serta pohon-pohon besar sebagai sistem kepercayaan mereka atau sering disebut animisme dan dinamisme. B. Zaman Logam Perlu ditegaskan bahwa dengan dimulainya zaman logam bukan berarti berakhirnya zaman batu, karena pada zaman logampun alat-alat dari batu terus berkembang bahkan sampai sekarang. Sesungguhnya nama zaman logam hanyalah untuk menyatakan bahwa pada zaman tersebut alat-alat dari logam telah dikenal dan dipergunakan secara dominan. Zaman logam disebut juga dengan zaman perundagian. Perkembangan zaman logam di Indonesia berbeda dengan di Eropa, karena zaman logam di Eropa mengalami 3 fase/bagian, yaitu zaman tembaga, zaman perunggu, dan zaman besi. Sedangkan di Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya tidak mengalami zaman tembaga tetapi langsung memasuki zaman perunggu dan besi secara bersamaan. Dan hasil temuan yang lebih dominan adalah alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam disebut juga dengan zaman perunggu. Zaman Perunggu Pada zaman perunggu atau yang disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tonkin Cina pusat kebudayaan ini manusia purba sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras. Zaman Besi Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggusebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C. Pembagian zaman prasejarah di Indonesia menurut Geologi atau ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan. Berdasarkan geologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Zaman-zaman tersebut merupakan periodisasi atau pembabakan prasejarah yang terdiri dari Arkaekum/zaman tertua. Zaman ini berlangsung kira-kira 2500 juta tahun, pada saat itu kulit bumi masih panas, sehingga tidak ada kehidupan. Paleozoikum / zaman primer atau zaman hidup tua. Zaman ini berlangsung 340 juta tahun. Makhluk hidup yang muncul pada zaman ini seperti mikro organisme, ikan, ampibi, reptil dan binatang yang tidak bertulang punggung. Mesozoikum/zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan. Zaman ini berlangsung kira-kira 140 juta tahun. Pada zaman pertengahan jenis reptil mencapai tingkat yang terbesar sehingga pada zaman ini sering disebut juga dengan zaman reptil. Setelah berakhirnya zaman sekunder ini, maka muncul kehidupan yang lain yaitu jenis burung dan binatang menyusui yang masih rendah sekali tingkatannya. Sedangkan jenis reptilnya mengalami kepunahan. Neozoikum/zaman hidup baru. Zaman ini dibedakan menjadi 2 zaman, yaitu Tersier/zaman ketiga. Zaman ini berlangsung sekitar 60 juta tahun. Yang terpenting dari zaman ini ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui seperti jenis primata, contohnya kera. Kuartier/zaman keempat. Zaman ini ditandai dengan adanya kehidupan manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Dan zaman ini dibagi lagi menjadi dua zaman yaitu yang disebut dengan zaman Pleistocen dan Holocen. I. Zaman Pleitocen/Dilluvium yaitu Berlangsung kira-kira tahun yang ditandai dengan adanya manusia purba. II. Zaman Holocen/Alluvium yaitu Berlangsung kira-kira tahun yang lalu dan terus berkembang sampai dewasa ini. Pada zaman ini ditandai dengan munculnya manusia jenis Homo Sapiens yang memiliki ciri-ciri seperti manusia sekarang. Pembagian Zaman Menurut Corak Kehidupan Pembagian zaman prasejarah di Indonesia menurut Corak kehidupan, antara lain Masa berburu dan mengumpulkan makanan food gathering Aktivitas berburu dan mengumpulkan meramu makanan merupakan aktivitas sederhana yang bisa dilakukan manusia ketika itu. Mereka tinggal mengambil makanan secara langsung dari alam dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan atau biasa disebut food gathering. Masa bercocok tanam Pada awal bercocok tanam, mereka melaksanakan peladangan berpindah atau pertanian lahan kering shifting cultivation. Pelaksanaan system ini dilakukan dengan cara membuka hutan untuk ditanami dan mereka akan berpindah lokasi pertanian ke lahan yang lain apabila dirasa lahan yang mereka tanami sudah tidak produktif lagi. System peladangan dapat dilaksanakan oleh mereka ketika jumlah penduduknya masih sedikit, dan hutan sebagai lahan pertanian masih luas. Karena jumlah penduduk bertambah, kebutuhan bahan makanan semakin banyak dan akibatnya system perladangan lambat laun menjadi tidak efektif lagi, ditambah lahan pertanian yang diubah menjadi lahan pemukiman. Masa pertukangan perundagian Masa di mana manusia sudah mengenal pengolahan logam. Hasil-hasil kebudayaan yang dihasilkan terbuat dari bahan logam. Adanya penggunaan logam, tidaklah berarti hilangnya penggunaan barang-barang dari batu. Pada masa perundagian, manusia masih juga menggunakan barang-barang yang berasal dari batu. Penggunaan bahan dari logam tidak begitu tersebar luas sebagaimana halnya bahan dari batu. Persediaan logam sangat terbatas. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki barang-barang dari logam. Masa mengenal kepercayaan Pada saat itu masyarakat sudah mengenal kepercayaan pada tingkat awal. Mereka yakin bahwa ada hubungan antara orang yang sudah meninggal dan yang masih hidup. Mereka telah mengenal kepercayaan sistem penguburan sebagai bukti penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal. Hal ini terbukti dengan didirikan kuburan sebagai bukti penghormatan terakhir pada orang yang meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa telah muncul kepercayaan pada masa berburu dan meramu. Dengan penguburan berarti telah muncul konsep kepercayaan tentang adanya hubungan antara orang yang sudah meninggal dengan yang masih hidup. Manusia purba di Indonesia pada masa ini diperkirakan sudah mengenal bahwa jenazah manusia itu harus dikubur. Kesadaraan akan adanya kekuatan gaib di luar perhitungan manusia. Itulah yang menjadi dasar kepercayaan. Kesimpulan Keterkaitan Manusia Ruang Dan Waktu Pada Sejarah Dengan demikian, waktu tidak sekadar alat atau instrumen yang menakjubkan, tetapi sebagai nilai pada dirinya sendiri, menjadi variabel independen, variabel utama, faktor determinan dalam kehidupan sosial kita. Begitu pentingnya waktu dalam kehidupan manusia Jika waktu telah berlalu sudah dipastikan tidak dapat bisa diulang kembali. Berkaitan antara waktu dengan peristiwa sejarah dan manusia menjadi pelakunya, meliputi empat hal yaitu sebagai berikut a. Perkembangan Perkembangan masyarakat terjadi bila berturut-turut masyarakat bergerak dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Biasanya masyarakat akan berkembang dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks. Contoh paling jelas adalah perkembangari demokrasi Amerika Serikat yang mengikuti perkembangan kota. b. Kesinambungan Kesinambungan terjadi bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi lembaga-lembaga lama. Contohnya, kolonialisme adalah kelanjutan dari patrimonialisme. c. Pengulangan Pengulangan terjadi bila peristiwa yang pernah terjadi pada masa lampau terjadi lagi pada masa selanjutnya. Contohnya, runtuhnya pemerintahan Orde Lama akibat aksi-aksi yang dilakukan oleh demonstrasi tahun 1966. Peristiwa itu kembali terjadi di mana pemerintahan orde baru mengalami keruntuhan akibat aksi-aksi yang dilakukan oleh demonistran tahun 1998. d. Perubahan Perubahan terjadi apabila masyarakat mengalami pergeseran dan perkembangan. Biasanya perubahan ini terjadi akibat pengaruh dari luar. Contohnya,Perubahan tata Budaya kesukuan masyarakat di Nusantara zaman dahulu menjadi sistem kerajaan yang dianggap sebagai hasil pengaruh masuknya agama Hindu-Budha di Nusantara. Oleh karena itu, peristiwa sejarah tidak pernah putus dari rangkaian masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, sehingga waktu dalam perjalanan sejarah adalah sebuah Kontinuitas kesinambungan. Dengan belajar sejarah, manusia bisa belajar dari pengalaman masa lalu, mencermati dan menggunakan pengalaman masa lalu pada masa kini, serta merencanakan kehidupan yang lebih baik dan menghindari kesalahan-kesalahan pada masa yang akan datang. Masa yang akan datang merupakan hal yang Sangat penting dari kehidupan manusia. Pengalaman masa lalu yang perlu dipelajar tidak nanya masa lalu diri sendiri, tetapi juga orang lain terutama orang-orang yang sukses dan pemimpin besar. Konsep tentang ruang dan waktu melekat dalam eksistensi manusia. Pemahaman tentang Onsep ruang dan waktu akan memberikan pandangan realitas kehidupan manusia. Hal tersebut memunculkan pemikiran-pemikiran kontemporer. Pemikiran-pemikiran tersebut dituangkan manusia dalam berbagai karya tertulis sehingga manusia lain atau manusia lain atau manusia pada masa yang akan datang dapat mempelajarinya. Karya tersebut Juga bisa menjadi media eksistensi dari si penulis sehingga dapat diketahui bahwa dia berada pada suatu masa. Dengan memahami konsep ruang dan waktu melalui penyingkapan suatu peristiwa daiam Kehidupan manusia memberikan inspirasi hidup untuk berani mengambil Keputusan terhadap berbagai kemungkinan alternatif dan kemungkinan masa depan. Hal ini penting sebagai sikap hidup yang bertanggung jawab atas segala keputusan yang menjadi pilihan hidup manusia walaupun secara eksistensial, manusia sebelumnya tak pernah tahu dari mana, mau ke mana, serta mengapa manusia harus hidup dan kemudian mati. Pentingnya pembahasan tentang hakikat hidup dalam konsep ruang dan waktu memiliki dua pengaruh, yaitu eksternal dan internal. Pengaruh eksternal, yaitu sebagai suatu landasan sikap hidup manusia di tengah hiruk-pikuknya kehidupan di era global yang penuh dengan benturan berbagai nilai humanistik dalam berhadapan dengan komunitas yang serba plural. Kesadaran akan keberadaan manusia dalam komunitas yang plural ini akan menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi sehingga diharapkan dapat mengurangi berbagai konflik dalam hidup bersama sebagai anggota masyarakat dalam suatu negara maupun dalam konteks yang universal, yaitu sebagal bagian dari umat manusia seluruh dunia. Adapun pengaruh intrinsik adalah kearifan seseorang dalam memandang dan menghadapi setiap kejadian,peristiwa, dan masalah dalam hidupnya. Bagaimana keterkaitan antara manusia dan sejarah?JawabManusia dan sejarah memiliki suatu keterkaitan yang erat. Tanpa sejarah, eksistensi manusia sebagai makhluk hidup yang berpikir dan beraktivitas perlu dipertanyakan. Begitu juga sebaliknya, tanpa manusia sejarah tidak akan pernah tidak akan pernah ada apabila manusia itu sendiri tidak ada. Manusialah yang menjadi objek sejarah dan menjadi subjek sejarah. Sejarah hadir karena bercerita tentang aktivitas manusia dan disajikan oleh lupa komentar & sarannyaEmail nanangnurulhidayat terus OK! 😁

manusia dan sejarah memiliki keterkaitan erat tanpa sejarah kedudukan manusia